Sejarah Penulisan dan Pengumpulan Hadis: Dari Masa Nabi hingga Karya-Karya Ulama
Penjagaan hadis Nabi ﷺ merupakan perjalanan ilmiah yang panjang dan terukur. Mulai dari masa Rasulullah ﷺ, para sahabat, tabi’in, hingga para ulama di abad kedua dan ketiga hijriah, sunnah dijaga dengan metode hafalan, penulisan, pengumpulan, hingga menjadi kitab-kitab hadis yang kita kenal sekarang.
Berikut tahapan pengumpulan dan penulisan Hadis sepanjang masa, yang jelas dan mudah dipahami.
1. Tahap Pertama: Penulisan Hadis dalam Suhuf (Lembaran-Lembaran)
a. Pada Masa Rasulullah ﷺ
Walaupun mayoritas sahabat mengandalkan hafalan, penulisan hadis sudah terjadi di masa Nabi ﷺ. Beberapa sahabat diberi izin menulis langsung dari beliau, di antaranya:
Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash – memiliki shahifah terkenal bernama Ash-Shahifah Ash-Shadiqah.
Penulisan hadis tentang tasyahud oleh Abu Syah.
Ini menunjukkan bahwa penulisan hadis bukanlah hal baru setelah beliau wafat, tetapi sudah dimulai sejak hidup beliau.
b. Setelah Wafat Nabi ﷺ
Antusiasme penulisan semakin kuat. Misalnya:
Anas bin Malik meminta putranya untuk menulis hadis ketika mendengarnya dari seorang perawi.
Ibnu Abbas mengumpulkan berita Nabi dengan menulis apa yang didengarnya dari para sahabat.
Mu’awiyah menulis surat kepada Mughirah bin Syu’bah berisi hadis yang beliau dengar.
Suhuf terkenal milik sahabat
Shahifah Ali bin Abi Thalib
Shahifah Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash
Shahifah Sa’ad bin ‘Ubadah
2. Penulisan Hadis oleh Para Tabi’in
Di masa tabi’in, penulisan semakin meluas karena beberapa faktor:
✔ mulai hilangnya sahabat dan hafiz-hafiz hadis
✔ kekhawatiran hadis akan hilang jika hanya mengandalkan hafalan
✔ munculnya fitnah, kesesatan, dan kedustaan
✔ tersebarnya para perawi ke berbagai negeri
Namun pada masa ini penulisan masih dalam bentuk lembaran-lembaran tanpa susunan bab.
Suhuf terkenal milik tabi’in
Sahifah Hammam bin Munabbih (140 hadis dari Abu Hurairah, sanad satu jalur)
Sahifah Basyir bin Nahik
Sahifah Abu Zubair dari Jabir bin Abdillah
Sahifah Said bin Jubair dari Ibnu Abbas
3. Tahap Pengumpulan Hadis Secara Besar-Besaran
Ini adalah titik penting dalam sejarah sunnah: bukan sekadar menulis, tetapi mengumpulkan hadis dari berbagai penjuru.
a. Usaha Abdul Aziz bin Marwan
Seorang gubernur yang memerintahkan:
Katsir bin Murrah mengumpulkan hadis dari 70 sahabat ahli Badar.
Riwayat ini lebih bersifat individual, tetapi menjadi pintu pembuka.
b. Usaha Khalifah Umar bin Abdul Aziz
Inilah tokoh besar pengumpul sunnah. Ketika melihat banyak ulama wafat dan kekhawatiran hilangnya hadis, beliau memerintahkan:
Abu Bakar bin Hazm – menulis dan mengirimkan hadis yang ada di Madinah.
Imam Muhammad bin Syihab Az-Zuhri – tokoh pertama yang mengumpulkan hadis secara sistematis dengan daftar-daftar tertulis.
Inilah tonggak awal kodifikasi hadis secara menyeluruh di dunia Islam.
4. Tahap Tasnif: Penyusunan Kitab Hadis dengan Bab dan Metode
Dimulai pertengahan abad ke-2 Hijriah.
Jika sebelumnya lembaran-lembaran terpisah, kini ulama mulai menyusun karya tulis dengan sistem:
tertib per bab
bab fikih
bab iman, wudhu, jihad, zakat, dan seterusnya
Ulama perintis tasnif di berbagai negeri:
| Negeri/Kota | Ulama Perintis |
|---|---|
| Makkah | Ibnu Juraij & Sufyan bin Uyainah |
| Madinah | Imam Malik (pengarang Al-Muwaththa) |
| Basrah | Syu’bah bin Al-Hajjaj, Hammad bin Salamah |
| Kufah | Sufyan Ats-Tsauri |
| Syam | Imam Al-Auza’i |
| Mesir | Laits bin Sa’ad, Abdullah bin Wahb |
| Yaman | Ma’mar bin Rasyid |
| Marwa | Abdullah bin Al-Mubarak |
Dari sinilah muncul masa emas kitab-kitab hadis, yang kemudian menghasilkan:
Musnad
Sunan
Jami’
Shahih
Mustadrak
Mustakhraj
Kutubul Rijal
dan seterusnya
Kesimpulan
Perjalanan hadis bukan proses spontan, tetapi ilmiah dan panjang:
Masa Nabi → hadis ditulis untuk kebutuhan langsung
Masa Sahabat → hadis dicatat, diwariskan, dan disebarkan
Masa Tabi’in → penulisan lebih luas karena kebutuhan ilmiah
Kodifikasi Besar oleh Umar bin Abdul Aziz dan Imam Az-Zuhri
Tasnif → hadis disusun per bab hingga lahirnya kitab-kitab standar yang kita kenal
Seluruh proses ini menunjukkan:
✅ kehati-hatian
✅ ketelitian
✅ profesionalisme ilmiah para ulama
✅ bukti kuat bahwa hadis terjaga sampai hari ini

