Sunnah di Masa Tabi’in: Perjalanan Menjaga Warisan Nabi ﷺ
Setelah Rasulullah ﷺ wafat, tongkat estafet penjagaan sunnah berpindah kepada para sahabat. Mereka menyebar ke berbagai negeri Islam, mengajarkan ilmu dan menyampaikan hadis kepada generasi setelahnya: Tabi’in. Di masa inilah berlangsung salah satu fase paling penting dalam sejarah periwayatan hadis—fase penuh fitnah, perubahan sosial, politik, dan munculnya golongan-golongan baru yang membawa dampak besar terhadap sunnah.
Namun justru di saat inilah Allah membangkitkan ahli ilmu yang luar biasa. Generasi yang bukan hanya belajar, tetapi juga menjaga, memeriksa, memilah, dan melindungi sunnah dari segala bentuk pemalsuan. Dari tangan merekalah sunnah Nabi ﷺ tetap terjaga sampai hari ini.
Mengapa Sunnah Perlu Dijaga?
Di masa tabiin muncul perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya:
munculnya perbedaan politik,
peperangan antar kaum muslimin,
lahirnya firqah (kelompok-kelompok sesat),
dan setiap kelompok berusaha mencari legitimasi dengan “hadis”.
Ketika mereka tidak menemukan dalil dalam Al-Qur’an dan hadis shahih untuk menguatkan ide dan bidahnya, sebagian memilih jalan keji: memalsukan hadis.
Karenanya, ilmu hadis berkembang bukan hanya dalam meriwayatkan, tetapi juga dalam mengkritik, menguji, dan menghalau kebohongan.
Golongan yang Memiliki “Saham” dalam Pemalsuan Hadis
Sejarah mencatat ada beberapa kelompok yang berperan besar dalam menyebarkan hadis palsu:
1. Kelompok Politik dan Mazhab Sesat
Kelompok seperti Syiah Rafidah, Khawarij, Qadariyah dan selainnya memalsukan hadis untuk memperkuat keyakinan mereka. Contoh nyata:
Hadis-hadis palsu tentang keutamaan Ali dan Ahlul Bait mencapai 300.000 riwayat palsu
Para pemalsu berkumpul, menyepakati satu amalan, lalu menjadikannya “hadis”
Tujuannya: menguatkan ideologi.
2. Orang Zindik (Munafik yang Merusak Islam dari Dalam)
Mereka memalsukan hadis untuk:
menghalalkan yang haram,
mengharamkan yang halal,
membuat orang ragu terhadap agama.
Ada seorang zindik mengakui telah menyebarkan 400 hadis palsu yang telah beredar di tengah masyarakat.
3. Tukang Cerita (Qashash) dan Penyampai Kisah Fiktif
Mereka menyebarkan riwayat-riwayat aneh demi popularitas dan uang. Karena itu, ulama hingga menulis buku khusus untuk membantah dusta para pencerita.
4. Orang Saleh yang Jahil
Ada orang-orang baik namun tidak berilmu, yang memasukkan hadis palsu dengan alasan:
“Ini untuk memotivasi manusia berbuat baik.”
“Dusta kami bukan atas nama Nabi, tapi untuk Nabi.”
Niatnya baik, perbuatannya kerusakan besar.
Perkembangan Metode Ilmiah dalam Menjaga Hadis
Pada masa tabiin dan generasi setelahnya, perkembangan besar terjadi dalam cara menjaga sunnah:
1. Munculnya Kritik Sanad
Tidak lagi menerima setiap hadis begitu saja. Mulailah pertanyaan muncul:
“Dari siapa engkau mendengarnya?”
“Siapa gurumu?”
“Apa kedudukannya dalam ilmu?”
Imam Ibn Sirin berkata:
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
2. Berpegang Teguh pada Sunnah
Ahli hadis bukan hanya menyampaikan ilmu, tetapi mengamalkannya, menjadi teladan, menjaga akhlak, menjaga lisan, dan hidup seperti para sahabat.
Imam Zuhri berkata:
“Berpegang kepada sunnah adalah keselamatan.”
3. Memeriksa Riwayat Langsung ke Sumber
Jika terjadi perbedaan, mereka tidak berdebat tanpa dasar. Mereka mendatangi sahabat yang mengalami kejadian dan memastikan langsung.
4. Mengutamakan Hadis yang Masyrur (Terkenal dan Terjaga)
Hadis yang asing dan tidak dikenal – disisihkan.
Imam Ahmad berkata:
“Hadis yang asing dan munkar tidak diamalkan.”
Madrasah-Madrasah Besar Penjaga Sunnah
Tersebarnya sahabat melahirkan pusat-pusat ilmu besar:
1. Madrasah Madinah
❱ Dipimpin oleh: Zaid bin Tsabit
Murid-muridnya:
Sa’id bin al-Musayyib
Urwah bin al-Zubair
Kharijah bin Zaid
Ibn Syihab az-Zuhri
Hingga Imam Malik
2. Madrasah Makkah
❱ Dipimpin oleh: Abdullah bin Abbas
Murid-muridnya:
Mujahid
Sa’id bin Jubair
Atha’ bin Abi Rabah
3. Madrasah Kufah
❱ Dipimpin oleh: Abdullah bin Mas’ud
Murid-muridnya:
Alqamah bin Qais
Masruq
Al-Aswad
kemudian Ibrahim An-Nakha’i
dan Sufyan ats-Tsauri
Semua jalur sanad hadis dunia pasti kembali kepada pusat-pusat ini.
Hasil Besarnya
Dari usaha para sabahat, tabiin, dan ahli hadis:
✅ Sunnah tetap asli
✅ Hadis palsu disaring
✅ Nama perawi dicatat
✅ Akhlak perawi diuji
✅ Setiap kata Nabi ﷺ terjaga hingga hari ini
Inilah salah satu mukjizat terbesar Islam: sunnah terjaga seperti Al-Qur’an.
Penutup
Masa tabiin adalah masa yang penuh ujian, namun di situlah Allah menampakkan para penjaga sunnah—dengan ilmu, hafalan, akhlak, dan keteguhan.
Mereka bukan hanya meriwayatkan,
tetapi juga memeriksa, mengkritisi, menyaring, dan melindungi hadis dari pemalsuan.
Tanpa mereka, kita hari ini tidak akan mengenal agama dengan kebenaran.
Semoga Allah merahmati para sahabat, tabiin, dan setiap ahli hadis yang menjaga agama ini dengan pengorbanan yang tidak terhitung.

