Sunnah di Masa Sahabat: Bagaimana Para Sahabat Menjaga, Mencatat, dan Menyebarkan Hadis

Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, tugas menjaga, memahami, dan menyebarkan sunnah berpindah kepada para sahabat. Mereka adalah generasi paling dekat dengan Nabi—mendengar langsung sabdanya, menyaksikan amalnya, dan mempelajari agama darinya tanpa perantara. Karena itu, peran mereka sangat menentukan keberlangsungan sunnah hingga sampai kepada umat Islam seluruh dunia.


Khilafah Abu Bakar: Penegakan Agama dan Awal Penulisan Hadis

Ketika Rasulullah ﷺ wafat, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dibaiat di Saqifah Bani Sa’idah oleh para Muhajirin dan Anshar. Pada masa ini, muncul kabilah-kabilah Arab yang enggan membayar zakat dan sebagian ada yang murtad. Abu Bakar memerangi mereka hingga kembali kepada Islam.

Setelah keadaan stabil, para sahabat mulai berpencar menyebarkan ilmu dan mengajarkan agama ke berbagai negeri. Pada masa inilah perhatian terhadap pencatatan hadis semakin tampak—para sahabat memiliki suhuf (naskah-naskah hadis pribadi), di antaranya:

  • Sahifah Ali bin Abi Thalib

  • Sahifah Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash

  • Sahifah Sa’ad bin ‘Ubadah

Meski hadis telah ditulis sejak masa Nabi, penyebaran tulisan semakin luas setelah wafat beliau, seiring meluasnya daerah Islam.


Khilafah Umar: Futuhat dan Penyebaran Sunnah

Di masa Umar bin Khattab, Islam meluas hingga Syam, Iraq, Persia, dan Mesir. Ketika suatu negeri ditaklukkan, sahabat tidak sekadar berperang lalu pulang; mereka tinggal di sana, membangun masjid, mengajarkan Al-Qur’an dan sunnah, dan menjadi pusat rujukan masyarakat.

Sistem ini membuat sunnah menyebar sangat cepat—bukan hanya lisan, tetapi juga melalui pembukuan dan pengajaran.


Khilafah Utsman dan Ali: Fitnah dan Kehati-hatian dalam Riwayat

Ketika Utsman radhiyallahu ‘anhu dibunuh secara zalim, datang masa fitnah besar: munculnya kelompok munafik, khawarij, syiah, dan hawa nafsu politik. Setelah itu terjadi perang di masa Ali radhiyallahu ‘anhu.

Fitnah ini membawa dampak penting: sahabat dan ulama setelahnya semakin ketat dalam menerima dan meriwayatkan hadis, hingga muncul ilmu al-jarh wat-ta’dil dan pemeriksaan sanad.

Ibnu Sirin berkata:

“Dulu kami tidak menanyakan sanad. Tapi ketika terjadi fitnah, kami berkata: Sebutkan nama-nama perawimu! Jika dari Ahlus Sunnah, kami ambil; jika dari ahli bid’ah, kami tinggalkan.”


Mengapa Sahabat Tidak Banyak Meriwayatkan Hadis?

Walaupun mereka paling tahu sunnah, para sahabat justru sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadis. Sebab mereka takut tergelincir pada kesalahan dan berdusta atas nama Rasulullah ﷺ.

Sabda Nabi:

“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempatnya di neraka.”

Karena itu, banyak sahabat beramal berdasarkan sunnah tanpa mengucapkan “Rasulullah bersabda,” tetapi cukup berkata:

  • “Kami diperintahkan…”

  • “Kami dilarang…”

Ini bentuk kehati-hatian, bukan kurang ilmu.


Sikap Teliti Abu Bakar, Umar, Ali, dan Ibnu Abbas

Para sahabat besar tidak menerima suatu riwayat kecuali melalui pembuktian. Contohnya:

1. Kisah Nenek Penanya Warisan

Seorang nenek datang meminta fatwa tentang waris. Abu Bakar berkata:

  • “Aku tidak menemukan bagianmu dalam Al-Qur’an,

  • dan aku tidak mengetahui bagianmu dalam sunnah.”

Beliau tidak berfatwa sembarangan.
Beliau bertanya kepada sahabat lain, lalu Mughîrah bin Shu’bah datang membawa riwayat.

Namun Abu Bakar tidak langsung percaya.

Beliau bertanya:

“Apakah ada orang lain bersamamu?”

Datanglah Muhammad bin Maslamah menguatkan riwayat itu.
Barulah Abu Bakar menetapkan: nenek mendapat 1/6 warisan.

Ini contoh ilmiah yang sangat agung:

  • bukan fanatik pendapat pribadi,

  • tetapi fanatik kepada dalil.


2. Umar dan Abu Musa al-Asy’ari

Abu Musa meminta izin masuk tiga kali, lalu pulang. Umar bertanya mengapa ia pergi, dan Abu Musa menjawab bahwa Rasulullah ﷺ memerintahkan demikian.

Umar tidak langsung menerima. Ia berkata:

“Datangkan saksi yang bersama kamu.”

Akhirnya Ubay bin Ka’ab menjadi saksi. Ini bukti kehati-hatian menerima hadis.


3. Ali bin Abi Thalib

Ali radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Jika aku mendengar hadis dari seseorang, aku memintanya bersumpah bahwa ia mendengarnya dari Rasulullah.”

Karena setelah muncul fitnah, tidak semua orang bisa dipercaya.


4. Ibnu Abbas

Ibnu Abbas berkata:

“Dulu jika seseorang berkata Rasulullah bersabda, kami langsung menoleh dan mendengar.
Sekarang ketika bidah dan hawa nafsu menyebar, kami tidak mengambil hadis kecuali dari yang kami kenal.”


Rihlah: Perjalanan Sahabat Mencari Satu Hadis

Sunnah tidak sampai ke seluruh negeri secara instan. Para sahabat rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan satu hadis.

Di antaranya:

  • Jabir bin Abdillah pergi menuju Syam demi mendengar satu hadis dari Abdullah bin Unais

  • Abu Ayyub al-Anshari menempuh perjalanan panjang ke Mesir demi satu riwayat dari ‘Uqbah bin Amir, padahal usianya telah 90 tahun

Ini menunjukkan bahwa ilmu agama disampaikan dengan pengorbanan, rihlah, dan kesungguhan, bukan hanya menunggu datangnya informasi.


Kesimpulan Penting

  1. Sahabat paling cinta kepada Nabi dan paling semangat menjaga sunnah.

  2. Mereka berhati-hati: tidak mudah riwayat, tidak asal bicara.

  3. Mereka menulis hadis, terutama setelah Islam menyebar.

  4. Mereka melakukan rihlah untuk memastikan satu hadis benar.

  5. Setelah muncul fitnah, proses verifikasi sanad dan perawi menjadi ketat.

  6. Sunnah sampai kepada kita bukan secara kebetulan, tetapi melalui perjuangan besar.

Share on Facebook
Share on Pinterest
Share on WhatsApp
Related posts
Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment