Sejarah Kemunculan Para Penolak Sunnah dan Bantahannya (Kajian Tarikh al-Sunnah)
Pendahuluan
Sunnah Nabi ﷺ merupakan sumber utama ajaran Islam setelah Al-Qur’an. Ia bukan sekadar pelengkap, tetapi penjelas (bayân), perinci, dan penguat makna-makna Al-Qur’an. Karena itu, sejak dahulu hingga kini, sunnah selalu menjadi sasaran serangan berbagai kelompok yang berusaha mencabut otoritasnya sebagai dalil syariat. Kajian Tarikh al-Sunnah tidak hanya membahas sejarah penjagaan sunnah, tetapi juga munculnya para penentang sunnah dan metode ilmiah membantah syubhat mereka.
Awal Kemunculan Pengingkar Sunnah
Gerakan penolakan sunnah pertama kali muncul pada masa akhir sahabat. Di antara contohnya adalah seorang lelaki yang berkata kepada Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu:
“Jangan ceritakan kepada kami kecuali Al-Qur’an.”
Ini menunjukkan lahirnya benih pemikiran yang memisahkan umat dari sunnah Nabi ﷺ—sebuah konsep yang jelas bertentangan dengan perintah Al-Qur’an sendiri.
Kelompok-Kelompok Penentang Sunnah
Para ulama hadis menyebut beberapa golongan yang terkenal mencela atau menolak sunnah:
1. Zanadiqah (Kaum Zindiq)
Kelompok munafik dan penyusup yang memalsukan hadis untuk merusak agama dari dalam. Mereka menciptakan hadis palsu lalu dinisbatkan kepada Nabi ﷺ. Namun, Allah menjaga sunnah melalui para ulama hadis yang menetapkan kaidah ketat dalam menyingkap kepalsuan tersebut.
2. Rafidhah (Syiah Ekstrem)
Mereka menolak periwayatan sahabat kecuali sebagian kecil versi mereka, serta menuduh sahabat berkhianat. Cara paling efektif meruntuhkan Islam adalah meruntuhkan jembatan Islam: para sahabat. Ini sebabnya mereka fokus mencela sahabat, terutama Abu Hurairah dan Aisyah radhiyallahu ‘anhuma.
3. Mu’tazilah
Mereka mendahulukan akal atas wahyu. Karena itu banyak hadis mereka tolak dengan alasan “tidak rasional”.
4. Orientalis
Tujuan mereka bukan sekadar menyerang hadis, tetapi menghancurkan agama secara keseluruhan melalui tuduhan: hadis dibuat-buat, periwayat dusta, atau sunnah tidak terjaga.
5. Qur’aniyun
Kelompok mengaku cukup dengan Al-Qur’an saja. Mereka menolak hadis sebagai sumber hukum, padahal Al-Qur’an sendiri mewajibkan ketaatan kepada Rasul ﷺ. Akibatnya, agama tidak mungkin diamalkan secara benar—sebab tata cara salat, zakat, haji, hudud, muamalah, semuanya dijelaskan melalui sunnah.
6. Sekularis dan Aqlaniyyun
Mereka menolak ajaran yang dianggap bertentangan dengan logika modern, seperti isra’ mi’raj, hukum jinayah, ruqyah, atau mu’jizat. Ini hanyalah pendewaan akal dan pengabaian wahyu.
Syubhat yang Dilontarkan para Penolak Sunnah dan Bantahannya
1. “Sunnah tidak bisa menjadi dalil hukum.”
Bantahan:
Al-Qur’an memerintahkan taat kepada Rasul ﷺ (bukan hanya kepada Al-Qur’an).
Perintah Al-Qur’an berlaku sampai hari kiamat, maka petunjuk Rasul pun berlaku sampai kiamat.
Mengaku berpegang pada Al-Qur’an tapi menolak sunnah adalah kontradiktif, karena Al-Qur’an mewajibkan ittiba’ kepada Nabi ﷺ.
2. “Al-Qur’an sudah lengkap, tidak butuh sunnah.”
Bantahan:
Benar Al-Qur’an lengkap, tetapi penjelasannya diberikan melalui sunnah.
Contoh sederhana: cara salat, jumlah rakaat, zakat mal, ukuran nishab, tata cara haji, semua dari sunnah.
Tanpa sunnah, setiap orang akan membuat tafsir sesuka hati, mengakibatkan agama berubah.
3. “Sunnah baru ditulis di masa tabi’in.”
Bantahan:
Hadis sudah ditulis sejak masa Nabi ﷺ: seperti catatan Abu Syah dan Shahifah Abdullah bin ‘Amr.
Para sahabat menghafal dan mengajarkan sunnah. Hafalan mereka jauh lebih kuat daripada hafalan orang modern.
Allah menjaga agama ini, dan sunnah tidak mungkin hilang karena ia adalah penjelas Al-Qur’an.
4. “Hadis banyak yang bertentangan.”
Bantahan:
Tidak semua yang dikatakan “bertentangan” itu sahih.
Jika dua hadis sama-sama sahih, ada metode ilmiah:
al-jam‘u (kompromi)
an-naskh wal-mansukh (mansukh-mansukh)
at-tarjih (memilih yang lebih kuat)
at-tawaqquf (menahan diri bila tidak jelas)
Kaidah ilmiah ini sudah dilakukan ulama sejak awal. Tanpa ilmu hadis, masyarakat akan meminum hadis palsu tanpa filter.
5. “Ada hadis bertentangan dengan akal sehat.”
Contoh yang sering dipakai: wanita disebut “kurang akal dan agama”.
Bantahan:
Nabi ﷺ sendiri menjelaskan maknanya: kurang akal pada sisi persaksian, kurang agama pada sisi salat dan puasa ketika haid.
Ini bukan penghinaan, tetapi penjelasan sifat biologis dan psikologis yang memiliki hikmah besar.
Islam justru memuliakan wanita dengan kedudukan yang tidak ada di agama lain.
6. “Abu Hurairah berdusta atau periwayatannya tidak amanah.”
Bantahan:
Abu Hurairah mulazamah kepada Nabi ﷺ, tidak sibuk berdagang seperti banyak sahabat lain.
Ia memilih lapar demi menuntut ilmu, bukan menempel untuk makan.
Para sahabat senior seperti Umar, Aisyah, Ibnu Umar, dan lainnya mengambil hadis darinya.
Tuduhan terhadap Abu Hurairah mayoritas berasal dari Syiah ekstrem dan orientalis.
Mengapa Sunnah Terjaga Sampai Hari Ini?
Karena Allah menjaga agama, maka penjagaan itu meliputi:
Al-Qur’an
Penjelasnya: As-Sunnah
Penjagaan sunnah berlangsung melalui:
Hafalan para sahabat.
Tabi’in dan generasi setelahnya.
Ilmu jarh wa ta‘dil—menyeleksi perawi.
Ilmu musthalah dan kritik sanad-matan.
Kodifikasi kitab-kitab hadis shahih dan sunan.
Ilmu hadis tidak muncul sekadar tradisi, tetapi metodologi ilmiah paling ketat dalam sejarah dunia.
Penutup
Menolak sunnah berarti menolak agama. Islam tidak berdiri di atas Al-Qur’an saja, tetapi Al-Qur’an bersama sunnah sebagai penjelasnya. Para ulama telah mematahkan seluruh syubhat yang dilontarkan kaum orientalis, sekularis, syiah ekstrem, hingga qur’aniyun. Tanpa sunnah, agama akan berubah menjadi ajaran yang sesuai akal manusia, bukan petunjuk Allah.
Adalah kewajiban umat Islam mempelajari sunnah, jembatan petunjuk dari Rasul ﷺ hingga akhir zaman.
Sunnah adalah cahaya setelah Al-Qur’an, dan barang siapa meninggalkannya, ia terjatuh dalam kegelapan.

