Hari ini sebenarnya bukan jadwal kajian saya.

Namun beberapa jamaah masjid meminta agar dibahas satu tema yang setiap Ramadhan selalu muncul: shalat tarawih.

Akhirnya malam ini kami bahas dengan rujukan kitab Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu karya Syeikh Wahbah az-Zuhaili.

Saya sampaikan kepada jamaah:

๐Ÿ‘‰ Tentang jumlah rakaat tarawih, para ulama memang berbeda pendapat:

๐Ÿ‘ Ada yang memilih 20 rakaat (Hanafi, Syafiโ€™i, Hanbali) berdasar atsar Umar bin Khattab ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡, beliau berkata ini seperti ijma’.

๐Ÿ‘ Ada yang 36 rakaat (Imam Malik & ahli Madinah).

๐Ÿ‘ Ada yang 8 rakaat berdasar hadits Aisyah radhiyallahu โ€˜anha.

๐Ÿ‘ Bahkan ada ulama seperti Ibnu Taimiyyah yang menegaskan: tidak ada batas baku minimal dan maksimal berdasarkan panjang dan pendeknya qiyam, semua jumlah itu baik.

๐Ÿ™ Artinya apa?

โžก๏ธ Semua boleh.

โžก๏ธ Tidak layak saling menyalahkan.

Kemudian saya tekankan hadits penting:

ุฅูู†ูŽู‘ู‡ู ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุงู…ูŽ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ุฅูู…ูŽุงู…ู ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูŽู†ู’ุตูŽุฑูููŽ ูƒูุชูุจูŽ ู„ูŽู‡ู ู‚ููŠูŽุงู…ู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู

โ€œSiapa yang shalat bersama imam sampai selesai, maka dicatat baginya pahala shalat semalam suntuk.โ€

(HR. at-Tirmidzi no. 806)

Maka bagi yang biasa 20 rakaat, sementara imam 8 + witir, lebih utama tetap bersama imam sampai selesai, kemudian melanjutkan hingga genap 20 rakaat.

Kami juga bahas soal witir:

Sebagian jamaah terbiasa witir 2+1, sementara imam langsung 3 rakaat.

Jika sejak awal berniat 2 rakaat, lalu imam berdiri ke rakaat ke-3, maka boleh mengubah niat sebelum berdiri ke rakaat ke-3.

Atau,

Bagi yang biasa tahajjud, afdhalnya witir di akhir malam.

Caranya: ikut imam sampai witir, lalu setelah imam salam, berdiri tambah 1 rakaat agar genap, dan nanti witir lagi di akhir malam.

Sebagai penguat, saya bacakan teks ulama:

ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ู†ูŽูˆูŽู‰ ุนูŽุฏูŽุฏู‹ุง ููŽู„ูŽู‡ู ุงู„ุฒูู‘ูŠูŽุงุฏูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู†ูŽู‘ู‚ู’ุตู ุจูุดูŽุฑู’ุทู ุฃูŽู†ู’ ูŠูุบูŽูŠูู‘ุฑูŽ ุงู„ู†ูู‘ูŠูŽู‘ุฉูŽ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽู‡ูู…ูŽุงุŒ ููŽู„ูŽูˆู’ ู†ูŽูˆูŽู‰ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู‹ุง ููŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ู…ูู†ู’ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุจูู†ููŠูŽู‘ุฉู ุงู„ู†ูŽู‘ู‚ู’ุตู ุฌูŽุงุฒูŽุŒ ุฃูŽูˆู’ ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ู†ููŠูŽู‘ุฉู ุนูŽู…ู’ุฏู‹ุง ุจูŽุทูŽู„ูŽุชู’ุŒ ุฃูŽูˆู’ ุณูŽู‡ู’ูˆู‹ุง ุฃูŽุชูŽู…ูŽู‘ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู‹ุง ูˆูŽุณูŽุฌูŽุฏูŽ ู„ูู„ุณูŽู‘ู‡ู’ูˆู.

“Apabila seseorang berniat sejumlah rakaat tertentu, maka ia boleh menambah atau menguranginya dengan syarat mengubah niat sebelum melakukannya. Jika ia berniat empat rakaat lalu salam dari dua rakaat dengan niat mengurangi, maka hal itu sah. Jika salam tanpa niat dengan sengaja, batal shalatnya. Jika karena lupa, maka ia menyempurnakan menjadi empat rakaat dan sujud sahwi.” (Umdatu as-sฤlik Wa ‘Uddatu an-nฤsik, karya ibnu an-Naqib al-Misry asy-Syฤfi’i

Satu pesan yang saya sampaikan ke jamaah:

๐ŸŒœRamadhan bukan bulan debat.

๐ŸฅฐRamadhan adalah bulan sujud, doa, air mata, dan memperbaiki diri.

Semoga Allah menerima amal kita semua, meski bentuk ibadah kita tidak selalu sama. ๐Ÿคฒโœจ

Share on Facebook
Share on Pinterest
Share on WhatsApp
Related posts
Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment