Hari ini saya mengulang Alfiyyah al-‘Irāqī.
Bait-baitnya terasa familiar, tapi juga seperti baru.
Di sela-sela pengulangan itu, ingatan saya melayang ke beberapa tahun silam.
Ke sebuah dauroh Alfiyyah al-‘Irāqī di Khadimussunnah.
Saya teringat catatan samping di kitab—tulisan kecil, rapat, mungkin dulu ditulis terburu-buru, tapi isinya dalam.
Salah satu catatan itu hari ini kembali hidup:
“Apakah ketika dikatakan: isnadnya sahih, otomatis haditsnya sahih?”
.
Pertanyaan yang kelihatannya sederhana.
Tapi dulu, di dauroh itu, justru terasa berat.
.
Catatan itu saya ambil dari Su‘ūd al-Marāqī, karya Syaikh ‘Abdul Karim al-Khudair:
فقول الإمام: إسناد الحديث صحيح، غير قوله: (الحديث صحيح)؛
لأنه إذا قال: (الحديث صحيح)، ضمنا صحة المتن، فلا يمكن أن يقول ذلك بمجرد صحة إسناده؛ بل قاله وقد تم نظره في متنه.
فالحكم للإسناد أمره سهل يدركه متوسطو الطلاب، فإذا درس إسناد حديث ما من خلال كتب الرجال، وعرف أن رواته ثقات، وأن كل واحد لقي الآخر، وأخذ عنه، أو عاصره مع إمكان اللقاء – على القول الثاني – فبعد هذا يستطيع أن يحكم على الإسناد بالصحة، وفي هذه الحال يقول: إسناده صحيح، أو الحديث بهذا الإسناد صحيح، لكن يبقى النظر في المخالفة، واستقامة المتن.
«واقبله»، يعني: اقبل هذا الحكم، إن أطلقه من يُعتمد، يعني: من أئمة هذا الشأن، فإذا قال إمام من الأئمة ممن يُعتمد قوله ويُعول عليه: إسناده صحيح، فاقبل قوله.
ولم يعقبه بضعف ينتقد، أي: حينما يقول الإمام أحمد أو الإمام البخاري أو أبو حاتم: إسناده صحيح، فلا يتصور أن مثل هؤلاء الأئمة يغررون بالناس، ويقولون: إسناده صحيح، ويكون في متنه علة! لأن إمامة أمثال هؤلاء وورعهم يمنعهم من أن يغرّروا بالقارئ أو السامع بالاقتصار على تصحيح الإسناد أو تحسينه وتركهم بيان العلة التي يعرفونها في المتن.
ويوجد في كلام المتأخرين تصحيح للإسناد ليبرؤوا من عهدة المتن،
ويسلك هذا كثير من الطلاب في البحوث التي يمرنون عليها؛ لأنهم لا يدركون العلل، وقد لا يستطيعون استيعاب الطرق وجمعها؛ لينظروا المخالفة من الموافقة، لأنهم يمرنون على دراسة الإسناد الموجود.
.
Ucapan seorang imam: “Isnad hadis ini sahih” berbeda dengan ucapannya: “Hadis ini sahih”.
Karena jika seorang imam berkata: “Hadis ini sahih”, maka itu sudah mencakup kesahihan matan (isi hadis). Tidak mungkin ia mengatakan demikian hanya berdasarkan sahihnya sanad saja, melainkan setelah ia meneliti dan menilai matannya secara sempurna.
.
Adapun memberi penilaian pada sanad, itu perkara yang relatif mudah dan bisa dilakukan oleh penuntut ilmu tingkat menengah. Jika seseorang meneliti sanad sebuah hadis melalui kitab-kitab rijal, mengetahui bahwa para perawinya tsiqah, bahwa masing-masing perawi pernah bertemu atau sezaman dengan kemungkinan bertemu (menurut pendapat kedua), maka setelah itu ia dapat menghukumi sanad tersebut sahih.
Dalam kondisi seperti ini ia mengatakan: “Sanadnya sahih” atau “Hadis ini sahih dengan sanad ini”. Namun tetap tersisa kewajiban untuk meneliti adanya penyelisihan dan kelurusan matan.
.
“Dan terimalah”, maksudnya: terimalah penilaian tersebut jika yang mengucapkannya adalah orang yang dapat dipercaya, yaitu para imam dalam bidang ini. Jika seorang imam yang ucapannya dijadikan pegangan mengatakan: “Sanadnya sahih”, maka terimalah ucapannya.
.
“Dan tidak diikuti dengan kelemahan yang dikritik”, artinya: ketika Imam Ahmad, Imam al-Bukhari, atau Abu Hatim berkata: “Sanadnya sahih”, tidak terbayang bahwa para imam seperti mereka akan menipu manusia dengan mengatakan sanadnya sahih sementara pada matannya terdapat cacat (ʿillah).
Keimaman dan sifat wara’ mereka mencegah mereka menyesatkan pembaca atau pendengar dengan hanya mensahihkan atau menghasankan sanad tanpa menjelaskan cacat pada matan yang mereka ketahui.
.
Adapun pada ucapan sebagian ulama muta’akhkhirin (belakangan), ditemukan praktik mensahihkan sanad sekadar untuk melepaskan tanggung jawab terhadap matan.
Cara ini banyak ditempuh oleh para penuntut ilmu dalam penelitian-penelitian latihan mereka, karena mereka belum mampu mengenali ʿillat, belum sanggup menghimpun seluruh jalur periwayatan untuk menilai kesesuaian dan penyelisihan, sebab mereka masih berlatih pada kajian sanad yang ada.
Semoga bermanfaat




