Dalam Asy-Syifa karya Qadhi ‘lyadh, salah satu sifat menonjol adalah syaja’ah Nabi (keberanian beliau). Bukan sekadar keberanian fisik di medan perang, tapi juga keberanian moral: berani menegakkan kebenaran meskipun sendirian.
.Pagi tadi dalam kajian Sunan Tirmidzi membahas tentang :
Bab: Apa yang datang tentang keteguhan ketika perang
[1688] Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa‘id, telah menceritakan kepada kami Sufyān ats-Tsauri, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq, dari al-Barā’ bin ‘Āzib.
Ia berkata: Seorang lelaki berkata kepadanya, “Apakah kalian lari meninggalkan Rasulullah wahai Abā ‘Umārah?”
Al-Barā’ menjawab: “Tidak, demi Allah, Rasulullah tidak mundur. Akan tetapi, orang-orang yang tergesa-gesa (barisan depan) yang mundur. Mereka disambut oleh pasukan Hawāzin. Sedangkan Rasulullah berada di atas baghalnya, dan Abu Sufyān bin al-Hārith bin ‘Abdul Muththalib memegang tali kekangnya. Dan Rasulullah bersabda: ‘Aku adalah Nabi, tidak dusta! Aku adalah anak ‘Abdul Muththalib.’”
.
Dalam Tuhfatu al-Ahwadzi :
Telah meriwayatkan at-Tirmidzi dari hadits Ibnu ‘Umar dengan sanad hasan, ia berkata:
“Sesungguhnya aku telah melihat kami pada hari Hunain, dan sungguh orang-orang itu berpaling, sementara yang bersama Rasulullah tidak sampai seratus orang.”
Al-Hafizh (Ibnu Hajar) berkata: “Inilah jumlah terbanyak yang aku dapati dari mereka yang tetap bertahan pada hari Hunain.”
.
Dalam kajian asy-Syifā saya sampaikan bahwa :
Jadi, keberanian Nabi ﷺ adalah faktor kebangkitan umat, baik di medan perang maupun dalam perjuangan dakwah.
Sebagai pemimpin, apapun yang dipimpin kita harus berani.











