Hari ini saya membaca buku The 21 Indispensable Qualities of A Leader karya John C. Maxwell, beliau berbicara mengenai sifat pemimpin, Kemurahan Hati.
Beliau mengutip perkataan **John Bunyan** menekankan nilai *keikhlasan puncak*: melakukan kebaikan kepada orang yang bahkan tidak mungkin membalas. Ini sejatinya sangat dekat dengan ruh ajaran Islam.
Dalam Islam, ada dua lapisan yang saling melengkapi—bukan bertentangan:
**1. Lapisan pertama: Ikhlas tanpa mengharap balasan**
Sebagaimana dalam QS. Al-Insan, ayat 9:
{ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِیدُ مِنكُمۡ جَزَاۤءࣰ وَلَا شُكُورًا }
*“Kami memberi makan kepada kalian hanyalah karena mengharap wajah Allah, kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula ucapan terima kasih.”*
Kebaikan sejati tidak bergantung pada respon manusia. Bahkan idealnya, penerima tidak mampu membalas—agar hati benar-benar bersandar hanya kepada Allah.
**2. Lapisan kedua: Kewajiban membalas dan mensyukuri kebaikan**
Di sisi lain, Nabi ﷺ mengajarkan:
> *“Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”* [HR. At-Tirmidzi no. 1954]
Dan dalam materi yang saya sampaikan dalam Dauroh (Arba’un Nisaiyyah), terlihat bahwa:
* Istri dituntut bersyukur kepada suami
* **Namun suami juga wajib bersyukur kepada istri**
* Tidak berterima kasih adalah bentuk *kufur nikmat*
**Kesimpulan kuatnya:**
* Kebaikan terbaik adalah yang tidak mengharap balasan
* Namun masyarakat terbaik adalah yang tetap saling membalas kebaikan
Di sinilah keseimbangan Islam:
**ikhlas secara vertikal (kepada Allah), dan adil secara horizontal (kepada manusia).**
MBJ











