Pembahasan dalam kitab ini menunjukkan bagaimana para ulama, baik salaf maupun khalaf, memiliki kesungguhan luar biasa dalam memanfaatkan waktu dan mengisinya dengan amal. Mereka tidak menunda pekerjaan yang bisa dilakukan hari ini sampai besok, karena penundaan akan menumpuk tugas dan merugikan diri sendiri.
1. Tidak Menunda Amal
Nasihat Umar bin Khattab kepada Abu Musa al-Ash’ari menekankan bahwa kekuatan amal terletak pada tidak menunda pekerjaan yang bisa dilakukan hari itu. Penundaan hanya membuat amal tertunda, menumpuk, dan akhirnya menghilangkan kesempatan untuk berbuat baik.
Abdullah bin Mas’ud pernah menyesali hari yang berlalu tanpa tambahan amal, sebab setiap hari yang lewat berarti umur berkurang, sementara amal tidak bertambah.
2. Semangat Ulama dalam Menuntut Ilmu
Para ulama terdahulu memiliki ketekunan luar biasa dalam mencari ilmu, bahkan dalam situasi sulit, termasuk saat mereka berada dalam tekanan politik atau fitnah.
- Said ibn al-Musayyib dan Qatadah digambarkan sangat tekun dalam belajar, bahkan di masa fitnah. Keduanya takut kehilangan kesempatan ilmu walau hanya sebentar.
- Qatadah diriwayatkan belajar selama 88 hari di Madinah, dan pujian dari Said muncul karena kesungguhan yang tidak pernah surut.
- Dalam kondisi ditolak penguasa, dibatasi, atau bahkan dihukum, tetap saja para pencari ilmu terus mendatangi guru-guru mereka.
3. Khatam al-Qur’an dan Rutinitas Ibadah
Salah satu ulama yang disebutkan biasa mengkhatamkan Al-Qur’an setiap pekan. Pada bulan Ramadan, ia mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tiga hari, dan pada sepuluh hari terakhir, setiap hari. Hal ini menunjukkan perhatian mereka terhadap waktu-waktu utama dan kesempatan beramal.
4. Adab dan Kecepatan dalam Mendengar Hadis
Kitab ini juga menyinggung adab thalib al-hadits:
- Mendahulukan semangat untuk mendengar hadis.
- Bersegera duduk di majelis sebelum guru mulai.
- Tidak menunda salam atau perkenalan jika hal itu bisa membuat kehilangan faedah.
Kisah para ahli hadis menunjukkan bahwa mereka lebih mengutamakan mendengar satu hadis daripada berbagai urusan lain.
5. Kesibukan Ulama yang Tidak Terputus
Beberapa contoh:
- Hammad bin Salamah disebutkan hampir tidak pernah terlihat tertawa karena kesibukannya dengan hadis, Al-Qur’an, dan zikir. Setiap waktu baginya digunakan untuk ibadah.
- Beliau wafat dalam keadaan membaca Al-Qur’an, sebagaimana banyak ulama lain yang wafat dalam aktivitas ibadah atau mengajar.
- Ada ulama yang menganggap waktu makan sebagai waktu paling berat karena harus memutus aktivitas ilmu.
6. Ulama yang Tetap Mengajar hingga Detik Wafat
Contoh paling kuat adalah:
- Abu Yusuf, murid besar Abu Hanifah, yang di detik-detik akhir hidupnya masih membahas masalah fikih dan memberikan fatwa ketika sedang sakit.
- Bahkan ketika anaknya meninggal, ia mewakilkan urusan jenazah kepada orang lain karena khawatir kehilangan kesempatan ilmu dari gurunya.
- Sikap ini menggambarkan prioritas mereka: waktu digunakan untuk mencari pengetahuan yang bermanfaat bagi umat.
7. Pengorbanan dan Keteguhan dalam Menuntut Ilmu
Banyak kisah menunjukkan pengorbanan:
- Ada ulama yang pakaiannya kotor karena tidak sempat mengganti baju; waktunya habis untuk membaca dan menulis.
- Ada yang sampai buta karena banyak membaca.
- Sebagian menahan tidur di malam hari demi menambah ilmu, menggunakan air untuk menghilangkan kantuk.
8. Keluarga yang Ditanggung agar Ilmu Tidak Terputus
Beberapa ulama memiliki wakil atau asisten yang mengurus kebutuhan keluarga, karena waktu mereka dipenuhi aktivitas ilmiah. Mereka tidak ingin perkara dunia memutus waktu belajar.
Namun kondisi seperti ini hanya berlaku bagi orang-orang yang benar-benar memiliki kapasitas besar untuk memberi manfaat kepada umat.
9. Begadang untuk Ilmu dan Menjaga Batas Kesehatan
Begadang di malam hari dianggap sebagai ciri penuntut ilmu yang ingin mencapai derajat tinggi. Namun diperhatikan agar tidak menimbulkan mudarat kesehatan.




