1. Kitab Qīmatuz Zamān – Berharganya waktu disisi para ulama

 

Qīmatuz Zamān menjelaskan betapa besar nikmat waktu yang Allah berikan kepada manusia. Waktu menjadi medan kehidupan, penggerak seluruh aktivitas, serta penentu kebahagiaan dan kesusahan. Tidak ada sesuatu yang nilainya menyamai waktu, karena waktu tidak memiliki pengganti; ketika berlalu, ia tidak akan kembali.

1. Waktu sebagai Nikmat Terbesar

Waktu termasuk nikmat pokok yang menjadi dasar bagi segala amal. Setiap menit yang digunakan dalam ketaatan, belajar, ibadah, atau amal saleh adalah keuntungan. Sebaliknya, waktu yang terlewat tanpa manfaat adalah kerugian yang tidak dapat diganti. Karena itu, setiap napas dianggap sebagai permata yang sangat mahal.

2. Pembagian Nikmat

Nikmat manusia terbagi menjadi:

  • Nikmat pokok: iman dan umur.
  • Nikmat cabang: kesehatan, keluasan harta, semangat belajar, ibadah sunnah, kekuatan fisik, kemampuan menjaga adab-adab kecil seperti memulai dengan kaki kanan, memakai wangi-wangian, dan lainnya.

Nikmat cabang berfungsi mendukung ibadah dan amal. Namun nikmat pokok menjadi landasan utama yang menentukan manfaat nikmat-nikmat lainnya.

3. Umur sebagai Hujjah

Allah menjadikan usia sebagai hujjah bagi manusia. Setiap orang akan ditanya tentang umur dan untuk apa waktu itu dihabiskan. Semakin panjang usia, semakin besar hisabnya. Oleh karena itu, penggunaan waktu harus selalu diarahkan pada ketaatan.

4. Dua Nikmat yang Sering Menipu

Dua nikmat yang sering membuat manusia lalai adalah:

  • Kesehatan
  • Waktu luang

Keduanya sering disia-siakan sampai akhirnya hilang tanpa membawa amal yang berarti.

5. Waktu dan Penuntut Ilmu

Waktu menjadi modal utama dalam menuntut ilmu. Para ahli ilmu memanfaatkan waktu secara tertib, menghindari perbuatan yang sia-sia, dan terus menjaga semangat belajar. Belajar sedikit tetapi konsisten lebih bermanfaat daripada waktu luang yang habis tanpa arah.

Ilmu dan amal menjadi teman yang akan menemani seseorang di alam kubur, sedangkan keluarga, harta, dan teman akan pergi meninggalkannya.

6. Kisah Keteladanan dalam Mengelola Waktu

Banyak teladan yang menunjukkan kesungguhan menjaga waktu:
Ada yang mampu memperbanyak zikir di sela-sela pekerjaan rumah tangga, ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an dalam keterbatasan waktu, dan para ulama yang tidak rela kehilangan satu kalimat ilmu atau satu kesempatan majelis.

Bagi sebagian ahli ilmu, terlewat satu kesempatan belajar atau kehilangan satu hadis dianggap seperti kehilangan sesuatu yang sangat besar.

7. Waktu Menentukan Nasib Akhirat

Seseorang bisa hidup seribu tahun tanpa amal, tetapi jika di akhir hidupnya Allah berikan taufik untuk bertobat, maka detik terakhir itu lebih berharga daripada seluruh tahun yang kosong. Hal ini menggambarkan betapa mahalnya waktu, terutama waktu-waktu akhir dalam kehidupan.

8. Cemburu terhadap Waktu

Orang berakal akan merasa “ghirah” terhadap waktu yang terbuang. Mereka bersedih ketika kehilangan kesempatan amal atau keterlambatan dalam ibadah. Waktu yang lolos tidak dapat diulang, sehingga penjagaannya menjadi ciri orang yang mengenal nilai kehidupan.

 

Share on Facebook
Share on Pinterest
Share on WhatsApp
Related posts
Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment