6. Kitab Qīmatuz Zamān – Berharganya waktu disisi para ulama

Teladan Ulama dalam Memanfaatkan Waktu & Kesungguhan Mereka dalam Ilmu

1. Ketekunan Ulama dalam Mengisi Waktu

Diceritakan tentang ulama seperti Ibnu Malik, pengarang Alfiyah, yang waktunya hampir seluruhnya diisi dengan:

  • Salat
  • Membaca Al-Qur’an
  • Menulis
  • Membaca kitab

Saat hendak berekreasi bersama rekan-rekannya, beliau tetap tidak melepaskan aktivitas ilmiah dan ditemukan sedang menulis.

2. Sikap Ulama Saat Menghadapi Sakaratul Maut

Materi menyinggung hakikat sakaratul maut melalui kisah wafat para tokoh. Sakit dan beratnya sakratul maut dipandang sebagai cara Allah meninggikan derajat seseorang. Bahkan sebagian ulama masih membutuhkan talqin saat menjelang wafat karena kondisi tubuh yang sangat lemah.

3. Pentingnya Kesungguhan dan Kelelahan dalam Menuntut Ilmu

Ada pernyataan bahwa hasil besar dalam ilmu sering diperoleh sebanding dengan tingkat kesungguhan dan kelelahan seseorang dalam mencapainya. Hal ini digambarkan dengan:

  • Ketekunan dalam murajaah
  • Ketelitian dalam menulis
  • Konsistensi membaca

4. Contoh Ketekunan Para Ulama dalam Menghafal

Sosok seperti Imam Nawawi disebutkan:

  • Tidak pernah membaringkan tubuh untuk tidur selama dua tahun
  • Menghafal kitab Tanbih dalam 4,5 bulan
  • Menghafal seperempat Muhadzdzab dalam waktu sekitar 5,5 bulan
  • Membaca dan mempelajari 12 pelajaran setiap hari dari berbagai disiplin ilmu

Beliau juga disebut tidak makan beberapa jenis makanan untuk menjaga kondisi tubuh agar tidak mudah mengantuk.

5. Kedisiplinan Metode Belajar Para Ulama

Beberapa ulama memiliki sistem belajar bertingkat dan terstruktur:

  • Penguasaan ilmu alat (nahwu, sharaf) secara intensif
  • Dilanjutkan fikih bertahap dari kitab kecil hingga besar
  • Setelah itu fokus hadis, usul hadis, dan takhassus pada rawi atau rijal

Ada pula perbandingan antara metode klasik yang menggabungkan semua ilmu sekaligus dengan metode yang memusatkan otak pada satu bidang dalam satu fase.

6. Contoh Rutinitas Ibadah Ulama

Beberapa tokoh digambarkan:

  • Memulai penulisan tausyih setelah bertahun-tahun fokus menuntut ilmu
  • Membaca kitab-kitab tertentu ratusan kali
  • Tidak makan makanan yang bisa melembapkan badan karena khawatir memicu kantuk
  • Melazimi qiraah, murajaah, dan dzikir di perjalanan, di pesawat, serta dalam safar yang panjang

7. Kisah Ketelitian dalam Ilmu Al-Qur’an

Salah satu kisah menggambarkan ulama yang langsung memperbaiki informasi terkait jumlah ayat dalam mushaf ketika menemukan kekeliruan penulisan. Ini menunjukkan perhatian tinggi terhadap detail ilmu.

8. Amalan dan Adab di Majelis Ilmu

Para ulama terdahulu:

  • Sangat menjaga waktu di sela tarawih, mengisinya dengan zikir atau muzakarah ilmiah
  • Tidak suka waktu kosong tanpa faedah
  • Ada yang menyimpan tasbih di lengan baju untuk berdzikir tanpa terlihat orang lain

9. Produktivitas Luar Biasa Ulama Besar

Di antara contoh yang disebut:

  • Ibnu Taimiyah: aktivitasnya tidak lepas dari mengajar, menulis, membaca, dan ibadah meski dalam keadaan sakit atau safar. Jumlah kitab dan risalahnya sangat banyak hingga sulit dihitung.
  • Ibnu Qayyim: menuliskan daftar karya gurunya yang mencapai 22 halaman hanya berupa judul kitab.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani: tidak melewatkan satu waktu pun kecuali untuk membaca, meriwayatkan, menulis, mengajar, atau beribadah. Dalam kondisi makan pun tetap dalam keadaan ibadah.

10. Kisah-Kisah Ulama dalam Mencari Ilmu

Beberapa kisah lain menggambarkan:

  • Perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan satu riwayat atau ijazah
  • Murid yang harus menunggu lama di depan rumah guru demi kesempatan membaca
  • Semangat ulama yang tetap menerima bacaan hadis sampai usia 100 tahun, bahkan beberapa hari sebelum wafat
  • Wanita ahli hadis seperti Zainab binti Yahya yang sudah mendapat ijazah pada usia 2 tahun dan hadir di majelis hadis di usia 5 tahun

11. Kecintaan Ulama terhadap Riwayat dan Sanad

Banyak ulama tetap menerima riwayat dan bacaan hadis hingga menjelang wafat, karena memandang kedatangan murid atau pecinta riwayat sebagai amalan besar yang tidak layak ditolak.

 

Share on Facebook
Share on Pinterest
Share on WhatsApp
Related posts
Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment