Hari ini Brebes terasa berbeda. Seakan langit membuka pintu kabarnya sendiri.
Bu Yang berdiri dengan mata berkaca-kaca, “Saya dulu cuma punya 200 ribu… tapi saya pengen umroh.”
Anaknya sempat nyeletuk, “Mama kan udah haji… uangnya ada?”
Belum.
Tapi tekad mengalahkan logika—emas digadaikan, niat dipasang. Dan Subhanallah… malah menemukan dua amplop lama, masing-masing 5 juta dan lain lain sampai terkumpul uang untuk bayar hutang. Hutang lunas tanpa diminta. Begitulah ketika niat langit disambut oleh rezeki bumi.
.
Tak lama, datang sekeluarga—sembilan orang. Awalnya bercanda di alun-alun:
“Ayah, mainnya ke sawah terus, kapan mainnya?”
Sambil tersenyum ayah menjawab, “Kita mainnya ke Mekkah aja.”
“Yang bener, Pak?”
Hari ini candaan itu diqabulkan Allah. Sembilan nama tertulis rapi.
.
Di sudut lain, kemarin terdengar berita jamaah mitra MusafirKU daerah lain yang sudah closing 40 seat. Mitra Brebes bilang “In sya Allah, kita juga 40,”. Dan ternyata hari … 20 seat langsung terkumpul. Langkah pertama menuju 40 terhidang di depan mata.
.
Perjalanan pun membawa kami ke Wonosobo. Di tanjakan aku berkata, “Kayaknya mesti nginep di Dieng.”
Dan benar—mobil mogok, malam turun, dingin menyapa.
Kami tertawa, “Allah kabulkan bahkan celetukan kecil kita.”
.
Hari ini kami belajar: banyaknya qabul bukan kebetulan.
Apa yang dibicarakan, apa yang diniatkan—Allah dengar.
.
Maka di akhir acara, seseorang berkata pelan tapi yakin:
“Sepertinya tahun depan kita dapat 10 M.”
Kami tersenyum. Siapa tahu ada malaikat yang mengaminkan.





